Sabtu, 17 Desember 2016

1:19:00 PM - No comments

Ulah Felix Si Anak Kucing



Felix lari terengah-engah ke dalam hutan, menghindari omelan ayah Shadow. Kali ini dia buat ulah lagi. Ikan yang disimpan ibu Milly untuk persediaan makan malam, dihabiskannya sendirian. Tempat persembunyiannya ada di sebuah lubang pohon beringin tua, tak jauh dari rumahnya. Hanya ibu Milly saja yang tahu tempat itu.


“Kenapa ya, Ayah kalau marah sangat membuatku takut?” Dua tangannya ia letakkan di bawah dagunya sambil membayangkan wajah galak ayah Shadow.

Terkadang Felix baru pulang di sore hari, menunggu ayahnya pergi mencari makan. Felix bermain-main dalam lubang pohon beringin, terkadang membuat usil semut-semut hitam yang sedang membawa makanan. Ia menghadang dengan tangan mungil berbulunya,” Naah, kalian tidak bisa lewaat!” Felix tertawa-tawa menggoda kawanan semut.

“Tolong, angkat tanganmu. Kami tidak bisa lewat, makanan yang ada di punggung kami lumayan berat.” Semut terdepan memohon pada Felix.

“Tidak mau!"

Ibu Milly selalu tak tega apabila Felix terus dimarahi. Ia tak pernah memberitahu tempat persembunyian Felix pada ayah Shadow.

"Anak itu tak pernah mau dengar apa kata orangtua!" Ayah Shadow masih geram karena Felix langsung melarikan diri.

"Sabar, Yah, mungkin dia masih lapar."

"Mengapa Ibu selalu membelanya? Anak itu tambah keras kepala!" Ibu Milly hanya diam. Ia paham sekali kalau ia makin meladeni omelin ayah Shadow, keadaan tak akan membaik. Felix pasti bersembunyi di pohon tua itu, pikirnya.

Ketika sore sudah tiba, Felix mengendap-endap, diliriknya kiri kanan ... aman, ayah pasti sudah pergi, pikirnya. Ia sudah melakukan hal ini selama beberapa hari. Ia merasa senang sekali bisa menghindari omelan ayah Shadow dan berpikir bahwa ia beruntung sekali menemukan lubang pohon beringin tua untuk tempat persembunyian. Ibu Milly sudah menanti di depan pintu rumahnya.

"Felix, kenapa kamu selalu membuat Ayahmu marah?"
"Ah, Ibu. Ayah galak sekali sih, masa aku makan ikan saja dimarahi."
"Ayah susah payah tangkap ikannya, Nak. Seharusnya kamu mengerti, makan jangan terlalu banyak, tidak baik. Nanti perutmu sakit, bagaimana? Makan secukupnya itu lebih baik, bukannya kami pelit padamu."
"Aah, Ibu. Aku ngantuk."

Ibu Milly hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Felix, anak satu-satunya.
Felix tak pernah jera, ada saja ulahnya yang membuat ayah Shadow marah. Kali ini Felix tak bisa diam, berlari ke sana ke mari di dalam rumah, berteriak mengeong, membuat gaduh, sehingga membuat Ayah Shadow kembali marah. Pelariannya selalu ke lubang pohon beringin tua di tengah hutan.

Kali ini ibu Milly hilang kesabaran, disusulnya Felix ke hutan. Amarahnya tak terbendung lagi.
"Feliix, keluar kamu dari lubang!!"

Felix terkejut. Itu kan, suara ibu, katanya dalam hati. Akhirnya Felix muncul dari dalam lubang pohon.

"Iya Ibu. Ibu kenapa?"
"Cepat, kamu harus minta maaf ke Ayah! Kamu sudah keterlaluan sekali!"
"Ah, gak mau, Bu. Ayah selalu marah pada Felix, padahal, kan ...."
"Padahal apa? Kamu yang selalu buat ulah! Cepat, pulang ke rumah dan minta maaf pada ayahmu!"
Felix terkejut. Ibu marah sekali padanya, tapi tetap saja dia tak mau mematuhinya.
"Ibu kok ikutan marah? Gak kasihan sama Felix, ya?" Felix merayu Ibu Milly sambil mencium tangannya.
"Kamu masih diam? Baiklah, biar Tuhan saja yang memberi hukuman padamu, Nak!"
Ibu Milly pulang, masih dalam keadaan marah meninggalkan Felix di hutan. Felix masih asyik saja di dalam lubang pohon tua tempat persembunyiannya.

Dalam perjalanan, tiba-tiba petir menyambar, padahal tak ada angin tak ada hujan. Ibu Milly terkejut karena terdengar suara Felix berteriak.

"Ibuu ... Ibuuu ... tolong akuuu!"

Ibu Milly kemudian bergegas ke dalam hutan kembali. Dilihatnya pohon beringin tua itu tumbang, lubang tempat Felix bersembunyi tertutup. Felix terperangkap di dalam lubang.

"Feliix, kamu tidak apa-apa, Nak? Feliix, Feliix?!" Ibu Milly berusaha mencari celah agar bisa tahu keadaannya anaknya.

"Felix kejepit, Bu ... huhuhu ... huhuhu, sakit, sempit, gelap, Ibuuu! Toloong Feliix!" Felix menangis sejadi-jadinya di dalam lubang pohon.

Ibu Milly panik, berusaha menenangkan Felix. "Kamu tunggu sebentar ya, Nak. Ibu panggilkan Ayah!"

Tak lama ibu Milly datang bersama ayah Shadow. Ayah membawa kapak yang lumayan besar. Bahkan lebih besar dari tubuhnya. Tak ada lagi kemarahan di wajah mereka, yang ada hanya kekhawatiran akan keadaan Felix.

Dengan bersusah payah ayah Shadow memotong batang pohon beringin tua itu, setidaknya membuat celah agar bisa melihat Felix yang terperangkap di dalamnya. Felix masih terus menangis, akhirnya ia sadar sendiri akan kegigihan ayah Shadow untuk menyelamatkan dirinya. Ia sekarang menyesal karena selalu membuat ulah nakal sehingga ke dua orang tuanya kesal.

"Ayaah, huhuhu, maafkan Felix. Felix bukan anak yang baik, huhuhu. Ibuuu, tolong akuuu, Ayaah keluarkan aku dari sini."
"Kamu yang tenang, Ayah berusaha memotong batang pohonnya. Jangan menangis terus!" Suara ayah Shadow tegas sekali. Ia terus memotong dengan kapak tanpa peduli keringat yang sudah membanjiri kening dan tubuhnya.

Ibu Milly membantu menyingkirkan serpihan batang pohon sembari berusaha menenangkan Felix yang masih sesegukan di dalam sana,tubuhnya benar-benar terhimpit. Akhirnya tepat tengah malam, Felix bisa keluar. Ia langsung memeluk ibu Milly. Ayah Shadow duduk melepas lelah dan berusaha mengatur nafas.

"Ayo, minta maaf pada Ayah. Jadilah anak yang baik ya, kalau ada sesuatu yang tidak kamu suka langsung beri tahu kami. Jangan langsung lari dan sembunyi." Ibu Milly mengelus kepala Felix dengan lembut.

“Iya Ibu, Felix menyesal. Felix tidak akan sembunyi lagi.” Suara Felix masih bercampur denga isak tangis ketakutan.

"Ayah, maafkan aku. Aku janji, akan berusaha menjadi anak yang baik." Felix memeluk ayah Shadow dengan tangis yang masih tertahan. 

Ayah Shadow tersenyum dan memeluk Felix erat sekali. Untunglah, anakku tidak apa-apa, batinnya.


TAMAT

0 Komentar: