Sabtu, 19 November 2016

4:48:00 PM - No comments

Pementasan Terakhir

tayang di NusantaraNews.Co tanggal 10 September 2016
Aku masih saja mondar-mandir mempersiapkan segala keperluan Teater Tata yang akan melakukan pementasan malam ini. Sekilas kulihat para pemeran sudah sibuk dengan urusannya. Memakai kostum dan make up yang tebal. Memang harus tebal agar penonton bisa melihat ekspresi mereka kala bermain. Tak hanya para pemerannya saja yang disiapkan penuh, alat musik sebagai pendukung terciptanya sebuah pementasan yang utuh satu per satu diperiksa nadanya, istilah yang pernah kudengar itu tuning. Sepertinya betul, artinya apakah ada yang sumbang atau tidak. Kalau ada yang tidak pas satu nada, bisa berpengaruh pada konsentrasi pemain, dijamin ruh pementasan akan buyar.


Sepertinya aku tahu banyak, ya? Padahal hanya seorang lelaki pesuruh saja. Sudah lama aku bekerja di Gedung Kesenian Jakarta  ini, hampir seperempat abad sejak aku berusia tujuh belas tahun, aku bekerja membersihkan setiap sudut bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Belanda yang hingga sekarang masih berdiri kokoh di pusat Jakarta. Saat Belanda datang dan menjajah, gedung ini mendapat julukan Schowburg, yang artinya gedung teater dalam bahasa Belanda. Seingatku dalam membaca sebuah buku sejarah, gedung ini sudah digunakan sejak ratusan tahun lalu untuk pertunjukkan kesenian.

Ketertarikanku pada dunia teater sudah cukup lama, tapi sepertinya keberadaanku tak dianggap ibarat buih di pantai, sekali dipukul angin, hilang tak berbekas. Aku pernah beberapa kali menawarkan diri untuk menjadi peran kecil di sebuah naskah, namun mereka menolak. Mereka menganggap aku ini bodoh, padahal aku sering membaca, membaca apa saja. Bahkan aku membaca biografi tokoh-tokoh teater yang terkenal seperti Putu Wijaya, Arifin C.Noer, Asrul Sani, Jose Rizal Manua. Apakah masih kurang?

"Ah, tak usah. Main teater tuh, gak gampang, Boy. Walau cuma dapat satu dialog, prosesnya harus berbulan-bulan. Badanmu kurus kering begitu, mana tahaaan!"

"Eh ... i-i-iya, ya Mas eh Bang, mmm?" ujarku dengan sedikit senyum yang dipaksakan. Aku memang kurus tapi tidak jelek, aku menghibur diri sendiri.

"Tuh, apalagi kamu gagap. Ya, mana bisaaa, bisa hancur pementasannya nanti. Artikulasi itu harus jelas, a… i… u… e… o. Mending begini aja, sudah cukup menolong kami." 

Dia, si pemeran utama mencontohkan mimik wajah yang berlipat-lipat seperti karet lalu pergi tetapi tangannya sempat mengambil makanan kecil yang kuhidangkan di depan wajahnya sambil asyik tertawa-tawa.

Saat itu aku berubah menjadi lelaki amnesia. Hanya pura-pura sebenarnya, pura-pura lupa pada perlakuan mereka. Sepertinya mereka seakan takut kehilangan lelaki yang bisa mereka suruh-suruh, mengambilkan ini, itu bahkan tak jarang mereka butuh pelampiasan emosi. Wajahku sudah berkali-kali menjadi sasaran telunjuk yang berapi-api.
***
Itu secuil memori yang singgah dalam otak sehingga  membuat diriku sedikit bergetar menahan berang. Aku hanya berdiri di ujung koridor yang tembus menuju panggung lekat memandangi mereka yang masih asyik membenahi apa yang kurang. Kali ini aku tak perlu tahu teater apa namanya yang akan pentas malam ini. Buat apa? Sejenak panas yang baru saja lewat di ubun-ubunku luruh, aku mondar-mandir dalam gedung. Aku mencoba mengingat kejadian yang membuatku senang, ah.., ya! Pernah ada pertunjukkan musik klasik, kelompok musik yang seluruhnya pandai bermain gitar klasik. Saat mereka latihan dalam pertunjukkan gladi resik, bisa dikatakan pertunjukkan terakhir sebelum pertunjukkan sesungguhnya, aku melihat tangan mereka sangat lihai memainkan senar, aku kurang paham lagu apa itu, tapi heran aku sangat suka mendengarkannya. Semakin suka, karena ada satu orang pemainnya sangat sopan kepadaku, seorang wanita. Cantik, rambutnya panjang, beralis tebal. Beberapa kali aku berjumpa dengannya di gedung ini karena dia sering menampilkan kepiawaiannya bermain gitar. Perlakuannya yang sopan tak berubah, aku mengagumi wanita itu, pernah kudengar ada yang memanggilnya, Rahila. Aku terpesona saat Rahila naik ke panggung, riuh suara penonton menggema kemudian senyap. Rahila sangat tenang saat memainkan lagu yang tak pernah aku mengerti itu. Jemarinya lentik, sesekali Rahila mencuri pandang ke arah penonton, tersenyum manis. Manis sekali, aku sempat berkata pada diri sendiri, sepertinya aku ini jatuh cinta.

Amnesia juga berlaku saat aku beberapa kali berjumpa dengan Rahila. Berpura-pura tenang, berpura-pura tak suka, padahal gemuruh jantung seakan ingin melompat keluar saat Rahila mengucapkan terima kasih lengkap dengan senyum manisnya. Padahal aku hanya menyodorkan air mineral agar hausnya hilang setelah menghibur penonton. Aku berimajinasi kalau Rahila suka juga denganku. Umurku tidak tua-tua amat, pasti hanya beda sepuluh tahun atau limabelas tahun darinya. Pasti aku sangat bahagia kalau aku beristrikan Rahila, tiap saat aku disuruh pun rela.

“Woi, Boy, bengong aja!’ Seorang teman Rahila menepuk pundakku agak keras, sehingga tubuhku yang kurus sedikit terjengkang ke depan. Sepertinya dia melihatku kalau aku memandangi Rahila hingga tidak berkedip sama sekali.

“Ah, iya Mas, eh maaf.” Tanpa sadar aku mencabut bulu kumisku yang tipis biar aku segera bangun dari imajinasiku tentang Rahila. Sakit namun ampuh, aku kembali berpura-pura lupa.
Pandanganku kembali mengitari bagian belakang panggung, ada si pemeran utama sudah siap memakai wig panjang berwarna putih sedikit menutup wajahnya, lengkap dengan jubah yang juga panjang berwarna hitam. Hmmm ... dia juga pongah tadi. Iya, aku hanya pesuruh, barusan hanya melewatiku saja, menyapa pun tidak.  Awas kau nanti ya.

Ada satu lagi yang menarik perhatianku, si pemeran anjing. Aku memicingkan mata saat memandanginya, sangat menjijikkan, seluruh tubuhnya hanya berbalut kostum ketat warna kulit. Wajahnya dicoret-coret menyerupai anjing. Saat melihatnya yang kurus kerempeng, ada sesuatu yang tidak adil di sini. Aku juga kurus tetapi mengapa tak mendapat peran apapun? Aku juga mau walau hanya peran anjing, hanya menggonggong dan menggerakkan bokong tepos ke kiri dan ke kanan, ibarat mengibas-ngibaskan ekor anjing dengan bulu yang tipis. Ada satu lagi, seorang wanita dengan gincu merah darah yang dilukis melewati garis bibirnya. Busana ketat mencolok berwarna kuning dan hijau, membuat mataku sakit. Aku tak tahu peran dia apa. Sepertinya gadis nakal atau perempuan bayaran. Dia melenggak-lenggok melihat cermin, memonyongkan bibir, mendesah, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit. Ada juga wanita berkerudung hitam, wajah mudanya dilukis menjadi raut yang tua. Bolak-balik membongkok sambil tertawa terkekeh-kekeh. Sepertinya wanita itu sangat menghayati perannya walau hanya sendirian.

Sebentar saja kulihat ke dalam ruang pertunjukkan. Aku naik ke atas panggung dan berdiri di tengah memandang sofa-sofa merah yang berjajar rapi seperti tangga.  Mata menelusuri di tiap sisi bangunan dengan tiang-tiang beton terpancang menahan atap setengah lingkaran yang menjulang.

Lighting, coba ke tengah!” Sutradara berteriak kepada penata pampu agar mencoba mengarahkan lampu sorot ke tengah panggung. Aku mendongak perlahan, ah… silau! Lampunya terlalu terang!
Perlahan kuusap bagian kepala, ada darah yang terus mengucur dari sana. Leherku tiba-tiba bengkok. Aku ingat sekarang, saat itu ada kecelakaan yang menimpaku, leherku patah dihantam lampu yang lepas dari pengaitnya. Sempat kudengar ada yang berteriak histeris, sepertinya suara Rahila. Benar, saat itu aku berusaha menyelamatkannya saat dia sedang baru akan memulai penampilannya di atas panggung. Tapi aku tidak menyesal, karena Rahila yang kuselamatkan.

Aku  tidak berpura-pura mati, saat ini aku mencari-cari seseorang, nah itu dia di sana! Duduk di sofa merah barisan terakhir, paling atas. Kondisinya sama persis denganku, lehernya bengkok dengan dahi yang penuh darah, hanya mulutnya yang sibuk mengunyah makanan kecil yang pernah kusuguhkan dulu. Dia, misi pertama sesudah aku mati. Nah, sekarang kau harus menonton peranku, ya? Ini misi kedua, harus sesuai dengan jalan cerita atau istilah kerennya skenario yang kubuat sendiri karena aku juga kini pemeran sekaligus sutradara. Sempurna bukan?. Ekor mataku mengikuti gerak-gerik lelaki yang memakai wig putih panjang. Dia masuk ke dalam panggung saat lampu semua dimatikan. Pada detik yang sama aku menghilang, seperti pesulap aku muncul di atas lampu siap melepaskan pengaitnya agar lampu jatuh tepat di atas kepala lelaki berwig panjang berwarna putih yang baru akan memulai perannya. Ini pementasan terakhirmu, teman.



Tamat

0 Komentar: