Sabtu, 19 November 2016

3:54:00 PM - No comments

Musim Sakura yang Paling Dingin

tayang di Buana Kata 14 Agustus 2016

Aku sedang ingin sendiri, berjalan di temaram lampu jalan di waktu malam hari. Kadang memperkecil langkah, berjalan sedikit cepat, kemudian berhenti. Sesukaku saja. Tak begitu dingin malam ini, bukti jarum jam belum menuju tengah malam, masih kelihatan riuh orang-orang lalu lalang. Namaku Lunar, di ingatanku namamu Sabit. Dua nama itu saja yang berputar-putar dalam kepalaku. Sabit sudah diambil Langit. Langit yang megah tentu, singgasananya bintang-bintang cantik yang terpugar di antara keduanya. Singgasanaku hanya rimbunnya pohon sakura. Sesekali aku memakai cadar agar kau tak menemukanku. Tapi tak berhasil, kau masih saja mengikuti dan mengenali.

   “Sudahlah, kau di sana saja, ya? Langit itu sepertinya sangat mencintaimu." Aku menyuruhnya pergi.
Kau hanya diam, matamu saja yang mencari-cari mataku. Mungkin di dalam otakmu itu sedang kusut, berpikir apakah aku waras menanyakan hal itu. Sekarang aku kembali berjalan menuju pulang. Kau pasti nyaman sekali di sana, ini pikiranku yang bilang. Ada sesuatu bernoda yang benar-benar tak merelakan kau ada di sana, jujur aku masih merasa senang dibayangi-bayangi olehmu.
   “Tolonglah, keluar dari persembunyianmu, Lunar?!” pintanya kebingungan.
   “Ini tak benar, tolonglah, Langit sedang menunggumu!” Aku bersembunyi di balik pohon beringin yang besar, yang siap melindungiku. Entah mengapa tiba-tiba ada beringin yang sekejap muncul dari tanah basah, sepertinya beringin  itu juga tahu kalau di antara kami adalah salah. Sesekali aku berusaha menahan diri agar tak menatapnya. Sabit terlalu silau buatku.
   “Bukan salahku, Lunar. Tolong maafkan aku,” lirih Sabit lemas.
Aku hanya bisa menatap punggung kekarnya yang kembali memanjat pohon sakura yang paling tinggi, kembali ke dekapan Langit. Kepalaku setengah pusing, hatiku sedikit sesak. Sudah berkali-kali aku berusaha mencoret namamu dengan arang yang paling legam, bertransmigrasi hingga ke pedalaman yang tak akan ada sakura yang sanggup tumbuh di tanahnya. Tak peduli banyak merpati yang memakan seluruh bagian bunga, herannya sakura itu terus tumbuh serentak dan bersama-sama mekar dan hanya berwarna sedikit merah muda. Sepertinya sakura itu tetap akan menjadi penghubung kami, Lunar dengan Sabit. Dulu, kami pernah merencanakan akan membuat teh bunga sakura, dengan cemilan sakura mochi. Aku sebelumnya tak pernah tahu apa itu sakura mochi. Dia menjelaskan dengan tatapan yang paling hangat, “ itu kue mochi yang dibungkus dengan daun sakura, Sayang.”
Kami duduk dan bercerita, tertawa renyah.
Sabit kembali menjelaskan, “sakura ada buahnya, seperti buah ceri. Kalau masih muda, buahnya berwarna hijau, tapi kalau sudah matang berwarna merah tua bahkan menjadi ungu, tapi tidak enak untuk dimakan, Sayang.”
Saat itu aku hanya melongo, berusaha menafsirkan diri sendiri, mengapa aku sampai tak bisa lepas dari Sabit. Aku kembali melongo melihat bibirnya yang terus bercerita tentang makanan yang terbuat dari bunga sakura. Aku baru tahu ternyata ada juga es krim dan kue kering rasa bunga sakura. Sepertinya Sabit suka sekali makan. Ah, bukan, dia mengaku dia suka sekali memasak. Aku seperti mendapat bonus, lelaki yang selalu membuatku melongo dengan ceritanya ternyata sangat suka memasak. Sepertinya kelak, aku akan sangat bahagia. Pikiranku kembali bilang.
   “Mengapa kau suka sekali dengan sakura?”
   “Entah,” jawabnya singkat.
   “Sakura kan, hanya ada di Jepang, mengapa pohon-pohon itu tumbuh di mana- mana dan mengikuti kita?”
   “Entah, mungkin mereka tahu aku ini sangat sukaa sekali dengan mereka, jadi mereka mengikutiku. Seperti kamu yang suka padaku. Jadiii …,” Sabit tersenyum dan tertawa lepas.
Dia berhasil membuat pipiku berubah warna, serupa dengan warna sakura yang sedikit merah muda dan hanya mampu mengiyakan dalam hati. Tapi itu hanya sementara, jalan cerita yang disusun dengan sempurna disulap menjadi pecahan yang menyakitkan. Saat itu juga bunga-bunga sakura rontok satu persatu pada saat yang hampir bersamaan dengan  hujan. Pohon-pohon sakura itu juga merasakan kesedihan kami. Kami tak pernah melawan dinginnya hujan deras yang membuat perasaan kami menggigil. Pernah satu saat, aku mengintip ke atas. Ada dirimu, Sabit dipeluk Langit, erat sekali. Aku seperti bayanganmu saja. Tapi aku cekatan dan paham kalau dirimu itu cengeng. Saat kau bersinar, selalu ada airmata di sana. Jatuh hanya di kepalaku. 

   "Aku bisa kedinginan, Sabit ... berhentilah. Sudahlah, seharusnya aku yang cengeng, aku kan wanita. Kau lelaki, Sabit. Tapi sudahi saja sampai di sini ya? Tak pantas rasanya, aku berjanji tiap kau muncul dengan sinarmu, aku akan selalu mengawasimu dari jauh. Kalaupun dekat, jangan pernah bawa sakura mochi ke hadapanku ya?” Aku berusaha menenangkannya, merayu dengan jari kelingking yang menunjuk ke atas.

Kau lupa, aku tak perlu sayap, karena aku pemanjat ulung. Pohon sakura tertinggi yang mencapai dirimu, aku mampu memanjatnya. Kakiku kuat, jantungku juga kuat. Setelah sampai di puncak pohon sakura, aku duduk melepas lelah, kembali memandangimu dengan tersenyum. Tanganku menadah airmatamu yang jatuh satu-satu. Biarlah hatiku yang menelan airmataku sendiri.

Itu kulakukan setiap kau muncul. Aku selalu siap di pohon sakura yang paling tinggi. Siap menadah airmatamu. Berulang-ulang, entah mengapa aku tak pernah bosan. Kadang airmatamu terlalu banyak hingga pakaianku sampai basah semua. Kau tak pernah tahu, aku Lunar yang mengalah dan hanya mampu bersembunyi di tiap lapisan kelopak bunga sakura yang tipis. Tetaplah di sana bersama Langit dan bintang-bintang kecilmu. Tak mengapa, Aku Lunar, selalu ada Sabit di dalamnya, pada musim sakura yang paling dingin.


Selesai

0 Komentar: