Jumat, 18 November 2016

Lebih Dekat Pintu yang Ke Dua

tayang di Harian Amanah tanggal 24 Juli 2016

Murtaba, lelaki berumur 65 tahun itu terlihat sedang menjajakan pisang dagangannya. Dengan tubuh sedikit bungkuk, berkopiah hitam lusuh menutup setengah rambutnya yang penuh uban. Sendal jepit usang di kaki yang menghitam. Celana panjang abu-abu dilipat di atas mata kaki memperlihatkan tungkai kurus yang legam. Kemeja putih sudah berubah menjadi krem, pertanda sudah lama dia tak pernah membeli yang baru.


Dia tak punya lapak khusus untuk menjajakan pisang kepoknya. Murtaba hanya mampu berkeliling dari gang ke gang kecil. Sesekali ke pinggir jalan. Langkahnya tak mampu menjuntai lebar seperti penjual muda yang lain. Pelan terseret karena pundak Murtaba membawa beban berisi beberapa tandan pisang kepok sebesar tangan. Sesekali melirik ke arah pisang dan tersenyum, berdo'a semoga jodoh setiap tandan segera datang meminang. Sekali-kali dia ingin berbuka puasa bersama istrinya Dayah, yang setia menunggu di rumah. Pisang goreng dan segelas teh hangat yang setiap hari dihidangkan untuk berbuka, dia merasa tak pernah bosan. Murtaba tersenyum lagi, kali ini melebar. Gigi depan nampak sudah tanggal, gigi istrinya pun begitu. Tapi senyum di bibir Dayah yang selalu menguatkan hatinya yang lemah.

Murtaba menengok sekeliling. Bulan puasa, siang begini sepi sekali, apa semua pada tidur, pikirnya. Bokong tipis Murtaba mencari tempat untuk duduk sejenak. Keringat sudah sedari tadi banjir di dahi yang penuh keriput. Tak ada keluh, malah tersenyum riang. Padahal matanya sudah menampakkan kelelahan. Murtaba berpikir, dia harus ke tempat yang lain, siapa tahu jodoh pisangnya ada di jalan sana. Perlahan, dia memanggul kembali dan berbalik arah.

     "Pak, Paak Tuaa. Saya mau beli pisaaang, Paaak!" teriak ibu berambut pendek, sedikit berlari tapi mulutnya masih mengoceh memarahi anak kecil di sebelahnya. Tangan kiri sibuk menggenggam, menarik-narik tangan anaknya yang terus menangis. Tangan kanan ibu itu penuh dengan barang belanjaan. "Paaak, tunggu! Kok gak denger sih, saya panggil-panggil!" Omelan berpindah ke Murtaba.

     "Mamaaa, mau mainaaan! Huhuhu ...," tangis anaknya semakin kencang.
Ibu itu tak peduli, dia sekarang ada di hadapan Murtaba yang masih sibuk menyeret kakinya Senyum semringah muncul, jodoh pisangku datang. Penglaris, penglaris, pikir Murtaba senang.

     "Pak, budeg ya! Saya mau beli pisang!"

Murtaba sudah biasa melihat wajah merah padam para pembelinya. Dia masih tersenyum, memberi isyarat di jemari. Telunjuk muncul, memberi isyarat ... 'mau beli satu, Bu?' Tak lama muncul jari tengah ... atau beli dua, Bu?' Senyum tak lepas dari bibirnya yang sedikit bergetar.

     "Bapak beneran gak bisa denger ya? Kalau budeg ya gak usah jualan! Nanti orang panggil, gak denger ... rejeki bisa hilang, Paak! Satu saja, gak usah banyak-banyak, sepuluh ribu ya!" Mulut ibu itu dengan napasnya yang ngos-ngosan, nyerocos tak henti. Murtaba seksama mengikuti bibir pembelinya, agar dia paham.

Murtaba hanya tersenyum dan membiarkan tangan ibu itu segera memilih, mengambil pisang dan memasukkan ke dalam kantong plastik besarnya. Tak ada bantahan. Biarlah, setandan pisang yang dia biasa jual limabelas ribu, kali ini diikhlaskan dijual sepuluh ribu. Ini semua karena tak tega melihat anak kecil yang terus menerus diomeli, menangis tak henti karena meminta mainan.

Murtaba membungkuk berkali-kali memberi tanda terima kasih karena ibu itu membeli setandan pisangnya yang pertama di hari ini. Alhamdulillah, hatinya mengucap syukur berkali-kali. Mata Murtaba masih mengekor tingkah laku ibu berambut pendek tadi, yang kali ini tak segan mencubit paha anaknya. Tak heran tangisnya makin keras. Sabar ya, Nak, kembali batinnya bicara tak tega.
Murtaba mulai berjalan lagi, mencari pembeli yang lain. Masih sepi, sampai sore pun baru setandan yang mampu dia jual. Tak apa hanya sepuluh ribu yang dia dapat, Dayah istri yang pas untuknya yang serba pas-pasan. Sebaiknya pulang saja, pikirnya kembali. Murtaba sangat ingin melihat Dayah tersenyum karena bisa berbuka puasa bersama.

Keringat semakin banyak, kemejanya pun basah kuyup. Entah mengapa lebih banyak dari yang kemarin. Tapi tetap tak menganggu langkahnya menuju pulang. Tinggal satu kali menyeberang di jalan besar, Murtaba segera sampai.

Tiin ... tiin ... tiiin!!!

Ciiiit!

Bruaaak!

Tubuh kurus Murtaba terlempar jauh ke pinggir jalan. Dia tak mendengar, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengklakson ke arahnya. Seketika, orang-orang berteriak kemudian berkerumun melihat Murtaba yang bermandikan darah, napasnya berkedut-kedut mencari ruang.
Mobil yang menabrak Murtaba ingin melarikan diri. Namun, orang-orang di sekeliling yang berkerumun menyadari.

     "Woooi, keluar kau! Keluaaar! Tanggung jawaaab kau!!"
Mobil ditendang, pintu dibuka paksa. Anak muda bertato, terhuyung-huyung diseret keluar dari mobil.

     "Gak sengaja, Paak. Sueeer!" Mulutnya yang berbau alkohol ditampar berkali-kali oleh beberapa orang di dekatnya.

     "Gak sengaja apaan kau!"

Buugh ... bughhh ... buuugh!!

Tendangan, tamparan, pukulan mendarat di sekujur tubuh lelaki muda bertato, ditelanjangi, dihakimi hingga berdarah persis seperti keadaan Murtaba yang masih tergeletak tak berdaya. Mereka sibuk dengan pelaku dan membiarkan Murtaba tergeletak sendiri menghitung setiap napasnya.
Dayah, aku tak bisa pulang, batinnya saja yang berbicara. Darah segar masih saja keluar dari bibir Murtaba.

Murtaba mencoba membuka mata. Di hadapannya, nampak seorang anak lelaki kecil lusuh dan kumuh menatapnya keheranan. Dia mendekap erat beberapa buah pisang yang dia kumpulkan dari jalanan. Murtaba berusaha tersenyum, menunjuk ke arah pisang yang dipeluk erat oleh anak kecil lusuh yang masih saja menatapnya lekat.

Telunjuknya muncul bergetar ..., 'mau ambil satu, Nak? Jari tengahnya ikut muncul dengan susah payah ... 'atau mau ambil dua, Nak?' Murtaba kesusahan memberi isyarat.

Kelima jari Murtaba terbuka ... 'ambil saja semua ya, Nak.'

Anak kecil lusuh dan kumuh itu berlari menjauhi kerumunan. Semua orang masih sibuk memberi pelajaran pada si pelaku. Tangan kecilnya dengan cepat memungut pisang-pisang yang berserakan. Hatinya riang mendapat banyak pisang untuk mak di rumah kardusnya.

Dahi Murtaba berkeringat, bibirnya meninggalkan senyum. Ternyata, pintu kedua lebih dekat, Dayah. Maaf, aku tak bisa pulang ... ya, Sayang? Ada rasa bersalah di dalam hati karena mulut bisunya tak pernah mampu mengatakan cinta pada Dayah.


‘Allaah,’ batinnya meneriakkan satu kata terakhirnya. Dan napas Murtaba berhenti di situ.

Selesai

0 Komentar: