Senin, 21 Maret 2016

4:27:00 PM - No comments

SAY SOMETHING



tayang di Buletin Jejak vol.60/ Maret 2016

Senandung lagu "Say Something" meruang. Norm menghayati suara A Great Big World yang mendayu-dayu. Sesekali bibirnya mengikuti lirik lagu yang didengarnya. Berkali-kali diputar, mata Norm terpejam, kepala perlahan dia gerakkan ke kiri ke kanan, meniru Stevie B kala menyanyi. Norm duduk di ranjang yang berantakan dengan kertas-kertas coretan. Gitar hanya dibekap erat.


"Say something ...," bibirnya bernyanyi. Norm mencoba mulai mengikuti dengan alunan gitar. Kali ini terasa kaku dan buntu, nada dasar pun tak ketemu. Norm memandang sebuah potret di atas rak kecil, potret perempuan yang dicintainya, Sierra. Ia meraih dan menatap lamat-lamat. "Say something, i'm giving up on you." Telunjuknya menelusuri wajah yang ada dalam bingkai. "You're the one that i loved." Ia masih bernyanyi, potret dikecupnya.

Sekejap, gambar Sierra keluar dari dalam potret, serupa asap dan menempel di tubuh gitar milik Norm. Dawai-dawai menjadi hidup menyerupai tangan. Wajah Sierra muncul tersenyum di tubuh gitar. Norm terperanjat  dan terpana.

"Sierra?"

Dawai tangan itu mengambil jemari Norm dan menggenggam hangat. Norm menyambut walau masih belum percaya apa yang dilihat. "Ah, Sayang ... akhirnya kau datang," pelukan Norm erat, kerinduan membungkus hati Norm. Ada keriangan di mata laki-laki beralis tebal itu namun panik menyergap karena merasa tak ada persiapan menyambut Sierra. Tubuh Norm direngkuh erat seolah-olah gitar menyerupai Sierra berusaha menenangkan Norm. Perlahan mereka berdansa mengikuti alunan lagu yang masih sama.

"I love you, Sierra. Say something ...," Norm masih mendekap gitar yang sudah berubah menjadi Sierra.

Dawai gitar menyerupai tangan itu mengelus rambut Norm. Mereka masih berdansa. Berputar-putar, mesra, kemudian tubuh gitar itu menjauh. Muncul kembali asap, secepat kilat tersedot dalam bingkai potret yang masih ada di rak kecil. Norm terpental ke belakang dan gitar pun terlepas. "Sierraaaaa ... Sierraaaa?!" Norm mengambil dan membolak-balik bingkai potret dengan panik.

"Aku di sini, Norm," Sierra muncul di dalam cermin.

Norm kembali terperanjat. Ia berlari menghampiri cermin. "Sierra, keluar dari sana, keluarlah. Jangan pergi lagi!"

"Aku di sini, Norm,"  Sierra kembali muncul di semua sudut dalam ruangan.

Norm berlari tak tentu arah, berusaha menemukan Sierra. "Sierra, Sierraa, maafkan aku!" Kepanikan kembali nampak di wajah Norm. Dia tetap tak menemukannya. Norm meradang dan mulai melempar apapun yang di dekatnya. "Sierraaaaa, wanita sialaaan! Sierraa ...!" Norm terduduk dan mulai menangis. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, bergoyang-goyang menggigil. Mata menatap kosong lantai yang penuh dengan barang yang dia lempar.

"Ssst, lihat dia, Sierra lagi yang disebutnya," bisik penjaga satu pada penjaga kedua.
"Entahlah, dia ditemukan di pinggir jalan tak ada tanda pengenal, atau foto perempuan. Aku tak tahu siapa Sierra itu," penjaga kedua hanya mengangkat bahu.
"Kau, kan yang membawa dia ke sini?"
"Iya, dia membuat onar di jalan, setiap perempuan yang dia temui pasti dimaki dan ditampar. Mungkin Sierra itu istrinya dulu yang dia siksa. Menyesal kemudian hingga membuat dia stress akhirnya gila." Penjaga kedua menduga. Penjaga satu hanya mengangguk-nganggukkan kepala seperti ayam mematuk makanannya.

Norm berdiri dan berteriak, "Say somethiiing!" Tubuhnya meliuk-liuk, suaranya berganti menjadi bariton kemudian sopran meninggi. "Lagu ini lagu kita, Sayaaaang!" Norm memejamkan mata.

"Kau tahu lagu yang dia nyanyikan?" penjaga satu kembali bertanya.
"Tidak tahu. Suaranya boleh juga, apa dia penyanyi atau pencipta lagu ya?"
"Mana kutahuu?!" penjaga satu mengangkat bahu.
"Apakah dia seorang pantomim? Kulihat gerakannya luwes sekali." penjaga dua memegang dagu.
"Sudah kubilang aku tak tahu. Kamu yang angkut dia ke mari!" penjaga satu kesal mondar mandir.
"Tapi sepertinya aku tahu lagunya! A-ha! penjaga ke dua ikut mondar-mandir.
"Jangan ikuti aku!" penjaga satu mendorong tubuh penjaga kedua dengan keras. Penjaga kedua tidak terima, seketika mereka berdua bergumul saling menghantam satu sama lain.

Dari luar sana, ada beberapa perawat laki-laki tergopoh-gopoh datang ke ruang mereka karena mendengar keributan, melihat kedua laki-laki bertubuh ceking saling baku hantam. Tiba-tiba ...

"Berhentiiiiiii! Norm berteriak seraya mengacungkan jari telunjuk ke atas. Mereka semua yang berada di situ seketika membeku karena terkejut. "Penjagaaaa, putarkan kembali lagunyaaa! Aku ingin bertemu Sierraku lagiiii!" Telunjuk Norm melesat mengarah ke arah radio tua yang sudah rusak.

"Siaaap, Kapteen!" Kedua laki-laki ceking itu berhambur berlarian, bertubrukan. Tangan mereka sibuk memutar-mutar radio rusak itu.

Dari luar ruangan, salah seorang perawat menggerutu, meremas rambutnya kuat-kuat. "Lama-lama aku bisa jadi gila kerja di tempat ini!"

Seketika keadaan menjadi sedikit tenang, Norm dan kedua penjaga ceking  itu kembali dengan halusinasi mereka yang memuakkan.


Tamat

0 Komentar: