Rabu, 24 Februari 2016

7:26:00 PM - 1 comment

J A D I L A H!





Kenari kuning kecil, melompat-lompat ketakutan saat majikannya menyediakan sekerat daging dalam wadah makanan dalam sangkar. "Hei kenari, berubahlah jadi elang." Sang majikan tua berkacamata itu terkekeh-kekeh, memperlihatkan gigi yang tanggal beberapa di sini dan di sana.


Sebenarnya kenari itu sangat lapar karena berhari-hari tak disediakan pakan khusus untuknya, atau timun segar dengan sawi putih yang ditempel di dinding sangkar. "Ayo, cepat makaan!" teriak ketus si majikan tua.


Kenari kuning kecil hanya bisa pasrah terbang sesekali terbentur dinding sangkar yang tak besar. Sekerat daging yang diletakkan tetap tak mau disentuh. Hanya burung gila yang mau memakannya. Warna kuning di tubuh kenari kecil memucat, ada sedikit noda darah di sisi kiri sayap kecilnya. Kemarin malam, sang majikan lupa menggantung sangkar. Kenari bergelut sepanjang malam dengan cakaran kucing hitam yang kebetulan lewat depan rumah majikan tua yang pikun. Keesokan pagi, tak ada usapan lembut atau setidaknya beri sedikit betadine untuk sayapnya yg berdarah.

Di balik sandiwara, Dzat yang Satu, sejak lama mengintai perbuatan majikan tua yang selalu semena-mena pada kenari kuning kecil. Bukan mantra alakazam, sim salabim, atau abrakadabra, melainkan "JADILAH". burung kenari kecil sedetik kemudian berubah menjadi kenari raksasa, cicitan sopran berubah menjadi alto, cicitan yang besar, berat dan menggelegar dunia.

Krraakk ...

Sangkar pun pecah dihantam sayapnya yang sedikit berdarah.

Majikan tua terbelalak, berusaha berteriak keras sekali agar kenari kuning raksasa mau berubah menjadi kenari kecil kembali.

"I-it-tu, ma-makananmu ada di dalam rumaah! Timun segar, sawi putih dan juga kuning telur yang gurih. Sebentar kuambilkan yaaa! Kembalilah kecil, kenari kuningku sayaaang!!" Majikan tua itu terburu-buru hendak ke dalam rumah, lututnya terseok-seok menyeimbangi getaran seluruh badan ringkihnya.

Kenari kuning raksasa segera melahap sang majikan tua. Kacamatanya ia ludahkan kembali. Kenari kuning raksasa mencicit kencang di mana penulis ingin menutup kisah. Tak perlu menjadi elang, kenari raksasa juga tak suka kacamata, timun, sawi putih atau kuning telur yang gurih. Akhirnya ia menyukai sekerat daging tua.

Tamat