Kamis, 17 Desember 2015

9:03:00 PM - 2 comments

Takdirku di Ujung Gang

AKU MENATAP GERAK-GERIKNYA. Secangkir kopi yang terhidang, sepertinya tak berampas dan manis, disruput pelan hingga tandas. Ada sesuatu di dalam matanya., berbinar-binar seakan mendapat hadiah lotre. Ibu, kau begitu lain hari ini.



     "Ibu, lagi senang, ya?"
   
     "Aaah, tidaaak." Mata ibu masih asyik menelusuri gadget yang ada di tangannya.

     "Bu, aku mau bicara sebentar."

     "Ya, mulai saja."

     "Sebaiknya siapa yang menjadi wali saat aku nikah nanti, Bu?"

     "Ya, siapa sajalah. Kamu urus saja semua." Matanya tetap tak menatapku. Tubuhnya beringsut bangun dari sofa empuk, mengambil tas kemudian sibuk memperbaiki dandanannya di cermin, di sebelah pintu keluar. Satu-satu bagian wajahnya ia poles kembali.

Aku menghela napas panjang. Sebenarnya aku tak begitu terkejut. Ibu seakan melapas topengnya, itu sekian detik saat napas ayah berhenti. Perubahannya kurasa sejak 2 tahun lalu. Padahal saat ayah menimangku dari panti asuhan, ibu sangat antusias menerima. Mengasuhku layaknya anak yang lahir dari rahimnya. Aku berpikir keras, goresan apa yang telah kubuat hingga mata ibu tak melihat mataku lagi? Ingin sekali bertanya, tapi seperti ada gembok besar yang mengunci bibirku.

     "Ibu pergi dulu," ujarnya dingin.

     "Ke mana, Bu? Ainda belum selesai bicara."

Ibu tak menghiraukan karena tangannya sibuk mencari gadget yang tiba-tiba berbunyi dari dalam tas. Aku kembali memperhatikan ibu.

     "Sudah kubilang jangan telepon!"

Binar mata ibu berubah kebingungan, ekor matanya sekilas melihatku, ia keluar rumah setengah berlari. Aku sempat terdiam sebentar. Entah mengapa, seperti ada yang menyuruhku mengikuti ibu. Tapi ibu bagai kilat, aku kesulitan menemukannya. Aku yakin ibu belum jauh. Penasaranku semakin kuat, dan di ujung sebuah gang kecil, takdir memberiku jawaban.

     "Lain kali aku saja yang telepon!"

     "Iya, Sayaaang. Jangan marah, ya," rayu seorang pemuda yang sangat kukenal wajahnya.

Aku tertegun dan tertancap di tanah tempatku berdiri. Pisau apa yang kautusuk, Bu? Aku semakin tak terlihatkah? Sakit sekali, Bu. Hatiku berdarah hebat. Dan tak sengaja mata ibu menangkap mataku yang sudah basah. Mata ibu yang ketakutan.


Jakarta, 2015