Jumat, 11 Desember 2015

Perlahan Akan Kusingkap Tirai Kegelapan Itu



Di kamar mandi aku terkejut, melihat sudah ada flek merah di celana dalamku. Sembilan bulan dua minggu, aku menunggu perut ini agar segera kontraksi. "Baang, siniii ... sudah merah, Baang!" Aku berteriak supaya Bang Rajali, suamiku segera datang.

Ia datang dengan wajah sedikit terkejut. "Mana, mana?"
Ia melongok ingin tahu. Aku menyodorkan celana dalamku, ia mengangguk. "Kita berangkat sekarang ke rumah sakit." Tangan kirinya menggenggam erat tanganku. "Kamu duduk dulu di sini. Aku ambil semua keperluan, ya?" Disuruhnya kududuk manis di sofa ruang tengah. Aku hanya diam memperhatikan Bang Rajali. Mondar-mandir memeriksa semua, agar rumah kami aman saat ditinggal. Dua tas keperluan setelah melahirkan sudah disiapkan dari jauh hari, jadi tinggal diangkat saja. "Ayo, kita berangkat. Bismillah." Tangannya kembali meraih tanganku untuk digenggam.

"Abang tak ganti baju dulu?" tanyaku karena suamiku hanya pakai kaos oblong.

"Tak usah, ayo." Aku mengikuti dengan sedikit susah, karena perut ini berat sekali. Ia mengunci pintu, mengambil sandal, menaruh tepat di depan kakiku, "ayo dipakai." Bang Rajali membungkuk dan mengelus kakiku.

Di luar, matahari seakan ikut gelisah. Panas ... tengkuk terasa berat, peluh melengkapi semua. Kulihat kaos oblong Bang Rajali basah. Kami menunggu taksi cukup lama. Mata suamiku meradar ke jalan, takut ada taksi kosong terlewat.

Perutku tiba-tiba kontraksi. "Aa-aah, Baang?!" Aku sedikit membungkuk menahan sakit namun tanganku tak kulepas dari genggaman Bang Rajali.

"Sudah mulai, ... sabar ya Inong?" Bang Rajali mengelus lembut tanganku. Aku hanya mengangguk. "Taksinya mana sih?!" Bang Rajali mulai menggerutu.

"Sabar, Bang," Aku tersenyum kecut balik mengingatkan. Bang Rajali balas tersenyum dan melap keningku yang basah oleh peluh.

"Itu dia, taksiiii, taksiiii!" Suamiku berteriak, ia segera menggendong dan mendudukkanku secara perlahan di dalam taksi. Ia masuk dari pintu sebelahnya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, tanganku tak pernah dilepasnya.

"Inong tunggu sebentar, Abang ambil kursi roda," ujarnya setelah sampai depan rumah sakit seraya keluar dari taksi. Aku hanya menurut diam.

Itu dia, suamiku sudah datang, diikuti beberapa suster di belakangnya. Dengan sigap Bang Rajali kembali menggendong dan menaruhku di kursi roda. Bahu kiri dan kanannya juga sibuk memanggul dua tas besar. Ia menolak suster yang hendak mendorong kursi roda. "Tunjukkan jalannya saja, Suster. Biar saya yang mendorong."

Aku sempat kontraksi lagi. Beginikah sakitnya, cara almarhum ibu mengeluarkanku dulu?

Dokter Han, yang beberapa bulan ini memeriksa perut bulatku, datang. Wajahku kembali meringis menahan sakit karena si jabang bayi membuat perutku mulas.

"Sudah pembukaan tiga, Bu. Mudah-mudahan cepat ya ... saya tinggal sebentar, nanti saya balik lagi. Suster Ubiet yang menemani di sini." Perkataan dokter berkaca mata itu membuatku sedikit lega.

Bang Rajali memperhatikan wajahku, "Inong, kalau kamu tidak kuat, bilang ya?"

"Aku kuat, Bang. Aku pasti bisa melahirkan secara normal," jawabku yakin.

"Iya, kamu kuat ... kamu pasti bisa," ujarnya dengan senyuman yang dipaksakan. Wajahnya penuh dengan kekhawatiran.

"Aaah, aaah ... Bang, perutkuuu!" lenguhku menahan sakit.

"Tarik napas lalu buang, Inong ... huf, huf." Bibirnya memberi contoh, membuatku sedikit kesal.

"Aku tahu, Baaang! Ini sakiit, aah-aaah ... huf, huf."

"Istighfar, Inong ... dzikir, dzikir." Kepalaku dielusnya lembut.

"Sudah pembukaan enam ... yang sabar tahan sakitnya ya, Bu." Suster yang bertugas menjagaku, memeriksa dan berusaha menenangkan. Perut berhenti kontraksi, Bang Rajali tak pernah berkedip mengawasi.

"Bang, aku mau ke kamar mandi."

Perlahan aku dipapahnya, diceboki dan dikeringkan bagian tubuh yang terkena air. "Baaang, aa-aaah! Perutku sakiit lagi! Huf ... huf!" Kontraksi datang, kali ini lebih sakit. Perutku seperti ada yang memutar-mutarnya, kencang semakin menegang. "Yaa Allah," bibir ini membilang nama Sang Maha.

Bang Rajali mengangkatku ke tempat tidur, suster Ubiet segera memanggil Dokter Han. Sepertinya bayi kami tak sabar ingin keluar ke dunia.

Tiba-tiba, bumi berguncang cukup keras. Gempa! Bang Rajali terkejut seraya memeluk kepalaku. Bumi pun kembali tenang. Sejenak kami terdiam. Namun tak lama gempa kembali datang, kali ini guncangannnya lebih kuat. Semua benda bergoyang-goyang. Sayup-sayup di luar sana terdengar teriakan," air laut dataaang, cepat lariiii ... ada aiiir, aiiirrrr!!!"

Tanpa pikir panjang, Bang Rajali menggendongku dan segera berlari keluar rumah sakit. "Baaang, perutku sakiittt!"
Bang Rajali terus berlari, aku menangis. Bibir suamiku tak henti-hentinya mengucap syahadat. Aku mengikutinya ditemani linangan airmata. Wajah suamiku menegang, menoleh ke belakang, air laut mengejar kami. Semua orang histeris berusaha menghindari air bah itu. Aku menjerit, kontraksi datang kembali. Aku masih dalam gendongan Bang Rajali. Aku ketakutan, kulihat air bah menjadi sebuah tangan raksasa naik hingga ke langit kemudian jatuh menelungkup bumi. Airnya menenggelamkan sekitarnya, terang siang menjadi gelap, teriakan dan tangisan membahana, dzikir dan kalimatillah menggema. Mengempaskan seluruh manusia yang ada di situ termasuk kami. Semua berteriak meminta tolong, namun pada siapa?

"Baaaang! Blllp ... blllp ...," teriakku memanggil nama suamiku. Aku terlepas dari gendongan Bang Rajali dan nyaris tenggelam.

"Allaaaahu Akbaaar! Inoooong! Tanganmu siniii! Tahaaan Inong!" Bang Rajali berenang sekuat tenaga berusaha meraihku kembali, namun gagal. Aku megap-megap menelan air, aku tak dapat berpijak pada tanah, air bah semakin meninggi, deras dan kencang. Tubuh Bang Rajali menjauh, kulihat samar-samar suamiku itu masih berusaha berenang ke arahku, berteriak-teriak namun tak pernah sampai.

"Inoooooong!!"

Aku kehabisan napas, Bang Rajali menghilang!
***

Perlahan kuaduk kopi kental ini, terngiang canda Bang Rajali, "Mantap kali kopi buatanmu, Inong Sayang." Memori kelam itu datang lagi, aku menangis sesegukkan di dapur. Sudah 2 tahun lalu kejadian gempa dan tsunami itu. Meluluhlantakkan daerah kami, mengambil banyak jiwa, termasuk jenazah Bang Rajali yang entah di mana. Sedih. Tapi aku tahu, semua karena Allah yang menginginkannya.

"Alahai, Makcik! Kopinya lama kali!" teriak Bang Syamsul, seorang pekerja bangunan yang beristirahat di warung kopiku yang sederhana.

"Sebentarlah, Bang Syamsul! Aku sambil lihat Muhammad!" Aku segera ke depan mengantar kopi yang kubuat barusan, tak lupa kuusap airmata. Kuintip Muhammad di ayunan, ia masih tertidur pulas.

Ternyata di depan sana sudah ada pembeli yang lain, aku mondar-mandir melayani mereka. Tiap airmata yang jatuh karena rindu pada Bang Rajali, kuyakin Allah tak pernah memberi cobaan melebihi dari kekuatanku. Dengan Muhammad di sisi, perlahan akan kusingkap tirai kegelapan itu agar menjadi terang kembali.


Jakarta, 2015

0 Komentar: