Jumat, 11 Desember 2015

8:18:00 PM - No comments

Kejujuran Rahmat





Rahmat hanya termangu di dalam kamar, bocah lelaki berusia 10 tahun itu terlihat gelisah. Ia membolak-balik dompet di tangannya. Perlahan ia membuka, terlihat lembaran uang yang banyak. Bukan seribu atau dua ribu, tetapi lembaran seratus ribu yang membuat mulutnya menganga terkesima.
Rahmat belum pernah memegang uang sebanyak itu. Dompetnya pun kelihatan sangat mahal, terlihat licin dan mengkilap. Ia tak sengaja menemukannya di jalan saat menjajakan dagangan gorengan emak sepanjang siang, sepulang sekolah.

"Banyak sekali," gumam Rahmat sedikit terkejut. Ia menghitung semuanya, selembar dua lembar, totalnya ada tiga juta rupiah. Rahmat menelan ludah. Kapan Emak punya uang sebanyak ini ya? Pikirnya dalam hati.

"Rahmaaat, sini! Tolong bantu Emak!" Rahmat kembali terkejut karena teriakan emak dari arah dapur.

"Iyaa, Maak." Rahmat buru-buru menyembunyikan dompet licin dan mengkilap itu di bawah bantal apeknya.

"Kamu ngapain aja? Kok lama amat datangnya?"

"Eng ... eng-gak, enggak apa-apa, Mak, ta-tadi Rahmat lagi baring-baring aja," ucap Rahmat gugup sekali.

"Tolong ke warung beli tepung ya. Mak mau buat adonan," ujar emak seraya memberi Rahmat sejumlah uang.

Rahmat segera ke warung, namun di pikirannya tetap ke dompet yang ia temukan. Ia bingung mau diapakan, terlebih lagi uangnya. Langkah bocah itu buru-buru pulang ke rumah. Dompet itu harus ia sembunyikan di tempat yang aman.

Baru saja Rahmat masuk ke halaman rumah, emak sudah menantinya di depan pintu. Wajah emak kelihatan sangat marah.

"Ini apa, Rahmat?" tanya emak penuh selidik.

"Itu ... i-i-tu dompet, Mak." Rahmat gugup, kedua tangannya saling meremas.

"Iya, Mak tahu! Ini dompet siapa?!!" Wajah emak merah karena amarah, suaranya meninggi.

"I-i-itu, eng-ng, Rah-mat ... mmm," Suara Rahmat tak jelas semakin membuat emaknya marah.

"Kamu mencuri ya! Jujur!!"

"Enggak, Maaak. Itu ne-nemu ...." Rahmat berusaha menjelaskan kalau dia bukan pencuri. Hati Rahmat sedih, ada sedikit airmata di ujung matanya. Dalam hatinya berontak, mengapa emak bilang kalau dia pencuri?

"Sekarang, kamu kembalikan dompet ini! Mak gak mau tahuu! Mak gak ajarin kamu mencuri!! Cepaaaat!!!" Rahmat semakin takut melihat wajah emak yang kelihatan lain dari biasanya, mata emak melotot.

Tubuh Rahmat gemetaran, ia tak bisa membantah. Ia berbalik ke luar rumah lagi dengan dompet di tangannya. Tak tahu harus kembalikan ke mana dompet ini. Ini punya siapa,  ia tak berani lagi melirik isinya.

"Aku bukan pencuriiii!" Ia berteriak kemudian berlari kencang, sangat kencang. Rahmat masih berlari dan berlari, airmatanya menetes. Aku bukan pencuri, aku bukan pencuri, Emak. Hatinya berulang-ulang kali berbicara begitu.

Bruuk! Rahmat terjatuh karena menubruk seseorang, dompet dan uangnya berhamburan. Ternyata Pak Imam, ayah Rahit, teman sekolahnya.

"Hati-hati, Rahmat." Pak Imam meringis, dadanya sedikit sakit karena tubrukan Rahmat kemudian ia membantu Rahmat bangun.

"Maaf, Pak. Saya gak sengaja," ujar Rahmat seraya memungut dompet dan uang yang terjatuh tadi. Pak Imam kembali membantunya.

"Ini uang siapa, Rahmat?"

"Saya gak mencuri, dompet dan uang ini gak sengaja saya nemu di jalan." Suara Rahmat bergetar karena masih menahan agar tak kembali menangis.

"Iya, Bapak gak nuduh kamu mencuri. Bapak hanya tanya ini uang siapa, kok banyak sekali."

"Saya gak tahu, Pak."

"Sini, Bapak lihat dompetnya. Siapa tahu ada alamat pemiliknya."

Pak Imam memeriksa isi dompet dengan teliti. "Nah, ini ada KTP-nya. Alamatnya ada, nanti dikembalikan saja."

Rahmat lega, akhirnya ada yang membantunya. "Kembaliinnya kapan, Pak?"

"Sekarang saja. Yuk, Bapak temani."

Rahmat dan Pak Imam mencari alamat pemilik dompet tebal itu. Ternyata tidak susah, dekat dengan jalan di mana Rahmat menemukannya. Sampailah mereka di depan pagar rumah yang tak begitu besar namun rapi dengan tamannya yang sejuk. Pak Imam mencari bel di sela pagar dan tembok.

Ting tong! Ting Tong! Tak lama, nampak seorang lelaki muda muncul dari dalam rumah.

"Ya? Cari siapa, ya?"

"Assalamu'alaikum ... maaf, Mas. Apa Mas namanya Damar? Anak ini, Rahmat nemu dompet di jalan sana," ujar Pak Imam seraya menunjuk ke jalan besar.

"Wa'alaikumsalam. Ah iyaa, itu dompet sayaa. Alhamdulillah ...." Lelaki muda itu membuka pagar dan mempersilahkan mereka untuk masuk namun ditolak halus oleh Pak Imam.

"Kami langsung pulang saja, Mas. Terima kasih ...."

"Saya yang harus berterima kasih, Pak. Terima kasih juga ya, Rahmat." Lelaki yang bernama Damar itu tersenyum tulus.

Rahmat masih gelisah, Pak Imam melihatnya begitu tak tenang. "Ada apa, Rahmat? Dompetnya kan sudah kembali ke Om Damar."

"Eng-enggak ... Pak. Saya cuma mau minta tolong Om Damar ke rumah saya. Jelasin ke Emak kalau saya bukan pencuri, Pak."

Pemilik dompet itu dan Pak Imam tersenyum.

"Kamu anak yang jujur, Rahmat. Ayo, kita ke rumahmu ... nanti Om jelasin semua."

Rahmat akhirnya tersenyum riang. Dalam batinnya berbicara, Emak pasti bangga padaku karena aku bukan pencuri.



Selesai

0 Komentar: