Kamis, 19 November 2015

4:42:00 PM - No comments

Senyum Hana di Bawah Hujan


     Fokus Hana tenggelam dalam kertas yang ada di hadapannya. Gadis berusia sepuluh tahun itu memang pandai sekali menggores, mengubah tiap coretan menjadi sebuah gambar yang elok.
Sesekali matanya menembus kaca jendela. Bibirnya tersenyum, saat melihat rerintik menjadi hujan yang menderas.

     "Waah, hujaaan." Hana memandangi kebun bunga milik ibu. Bunga-bunga seakan tersenyum menyambut tetes air hujan yang menyentuh tiap kelopaknya. Ibu sengaja membuat kebun bunga persis depan jendela kamar. Hana sering mengajak mereka bicara. Terkadang malah menjadi inspirasi ketika ia ingin menggambar.

     "Masa gambar bunga lagi, ya?" gumam Hana sambil memainkan pensil.

     Sesekali keningnya berkerut. Ia ingin menggambar sesuatu yang lain. Tiba-tiba senyumnya merekah. Jemarinya perlahan mulai menjamah kertas, menggores halus membentuk sketsa. Bibirnya tak lepas dari lengkungan senyum yang polos.

     Tiba-tiba ....

     "Hanaa ... Han, sedang apa, Sayang? Ibu memanggil dari arah pintu.
     "Lagi menggambar, Bu."
     "Gambar apa? Coba Ibu lihat." Ibu masuk, mengusap ubun-ubunnya dan mengamati goresan Hana.
     "Bagus gak, Bu?"
     "Bagus dong. Ini kaki siapa?"
     "Kaki Hana, sedang menari di bawah hujan yang deras. Cantik, ya Bu?" Hana merasa bangga saat memperlihatkan hasil goresannya.
     "Kali ini kaki Hana mau menari, ya?"
     "Iya, Bu. Kaki Hana kan bisa lakukan apa saja."
     "Ayuk, kita menari sekarang, mumpung masih hujan."

     Mata Hana membola kegirangan. Dunianya tak pernah kekurangan kasih sayang walau sejak lahir kedua tangannya disembunyikan oleh Tuhan.


Jakarta, 2015
     

0 Komentar: