Kamis, 12 November 2015

10:33:00 PM - No comments

Semua Demi Ibu

Peluh demi peluh jatuh demi terbentuk  rangka yang kukuh. Namun, tak pernah ada keluh kesah yang terucap dari bibir mereka. Bekerja sedari mentari terjaga hingga bulan menyembul ditemani bintang. Namun ... sayang, hari itu bumi ingin menggoyangkan tubuhnya dengan keras hingga seisinya tumpah ruah.


"Gempaaa, gempaaa ... selamatkan diri kalian! Selamatkan ibuu!" Salah seorang dari mereka berteriak agar ibu segera dilindungi.

Kepanikan tak terlihat walau ada sebagian yang mati terjatuh dan tertimpa. Mereka tetap bahu membahu membentuk sebuah lingkaran dan dengan sigap menyerupai kanopi menutupi tubuh bulat sang ibu. Mereka tak gentar menghadapi ulah sang bumi, hingga goyangannya tak terasa lagi.

"Syukurlah, sudah berhenti. Ayo! Sekarang semua bergerak turunkan Ibu. Kita semua harus mencari tempat yang baru!"

"Siap, Komandan!" Mereka, para pekerja berubah menjadi sekumpulan prajurit penuh kesigapan. Sangat lihai lagaknya bagai pemain sirkus, saling menggenggam kuat--tangan, badan dan kaki mereka hingga menyerupai tangga.

"Mari, Bu ... tangga sudah siap."

"Tidak apa-apa?" Ibu tampak ragu karena pasti akan menginjak-injak tubuh mereka.

"Tak apa, Ibu lebih penting dari apapun juga. Mereka semua sangat kuat," jawab sang komandan berusaha meyakinkan.

Akhirnya ibu selamat hingga ke bawah. Mereka semua menandunya menuju tempat yang aman sekaligus rindang. Karena dalam tubuh bulat sang ibu, ada ratusan koloni masa depan.

Selesai

0 Komentar: