Sabtu, 12 Desember 2015

Lingkaran



Waktu, dengan rodanya yang besar seringkali menenggelamkan diriku. Pelumas siap melicinkan kembali sendi-sendi tulang yang tiba-tiba berkarat. Lelah, tapi semua demi ayah. Namun, di antara tumpukan pekerjaan, permintaan ayah kerap kuabaikan. Ayah, dengan kaki yang tak mampu lagi menapak bahkan berjalan.


"Kalau bisa, pulang sebelum maghrib ya, Nak," ujarnya dengan senyum penuh keriput.
"Aku tak janji, Ayah. Aku lembur kayaknya malam ini."

Aku tahu, ayah hanya bisa memandang punggungku keluar dari rumah, membawa kursi rodanya kembali ke kamar. Ini kesekian kali aku merasa terganggu dengan permintaannya. Aku bahkan membelikan buku-buku yang tak akan membuatnya bosan. Aku paham, airmuka ayah yang berubah tiap kali tak kusanggupi permintaannya.

Itu limapuluh tahun yang lalu.

Tubuhku yang sekarang, lebih menyedihkan. Menggigil bukan karena kedinginan. Kakiku bahkan kaku, seperti ada yang mengikatnya dari dalam bumi. Aku bungkuk di kursi tua, karena tak mampu menahan punggungku yang renta. Mulutku setengah hidup setengah mati. Tubuhku dimakan stroke. Aku kini lelaki tua sakit yang sendiri, di antara lelaki-lelaki tua lain di rumah ini.

Aku teringat ayah, airmataku tumpah. Sayup-sayup, adzan magrib berkumandang.

Oh, ayah ... aku tahu, kau hanya ingin merapatkan shaf denganku di sana. Mataku yang rabun melihat ke jendela, menengok musola yang sederhana.


Jakarta, 2015


0 Komentar: