Kamis, 12 November 2015

10:39:00 PM - No comments

Lapuk



"Anda siap, Nona?"

"Sangat siap."

"Baiklah, kami akan mulai."


Tak ada lagi yang bisa mencegah. Bahkan dia juga tega meninggalkanku karena ada yang salah denganku, itu katanya. Pikiran menerawang penuh dendam. Semua harus berhasil! Akan kubuktikan semua, dan merebut dia kembali.

Kulihat langit-langitnya putih, juga terdengar musik yang tak begitu kencang. Mungkin biar mereka rileks, karena kuyakin prosesnya butuh waktu yang sangat lama. Aku tak segan merogoh kantong sedemikian dalam karena rasa percayaku pada mereka yang sangat tinggi.

"Volumenya yang ini ditambah, ini dikurangkan. Ini dipangkas juga."

Kudengar sayup-sayup, mereka pasti sudah mulai dan pasti sibuk. Ah ... aku ngantuk, sebaiknya kutidur saja.

***
Tanganku mulai meraba wajah, sangat berbeda dengan yang sempat kulihat dulu di potret itu. Seorang wanita cantik dengan wajah tirus, mata bulat, hidung mancung, leher jenjang, pinggang menawan. 

Mereka penjahat! 

Aku meraung-raung penuh sesal, tak mampu berbuat apa-apa. Warna kulit jadi tidak alami. Rambut semakin kasar, pipi yang aneh, bentuk bibir yang tebal, tubuh malah mengkerut. Aku menampakkan diri di hadapan dia. Dia histeris tak mau melihat.

Aku, karet bekas yang telah lapuk. Kalian boleh menertawaiku sebagai tokoh kartun yang konyol.


-r. ayahbi-

0 Komentar: