Kamis, 19 November 2015

4:23:00 PM - No comments

Denyut Untuk Ana

     Ini ke sekian kalinya aku meminta maaf. Tapi tetap ditolak. Ana hanya memandang dingin. Embun-embun kecil masih saja jatuh dari kelopak matanya yang sendu.

     "Aku menyesal, Ana. Seharusnya aku tak melepaskanmu." Wajahku memelas, berharap Ana mau menjadi pendampingku kembali.
     "Pulanglah." Hanya itu yang keluar dari bibirnya yang mungil, matanya masih berbicara bahwa ia sangat terluka. Mengapa aku dulu melepaskannya? Padahal Ana istri yang baik, tak pernah menuntut apa-apa. Ia seperti malaikat bagiku. Aku angkuh merasa tak mencintainya lagi dan membuat sayap malaikatku patah. Sekarang? Aku merasa kosong, tak berdaya.

     Langkahku gontai dengan rupa berantakan. Tak pernah terurus, di pikiran hanya Ana dan Ana, merasa kesurupan olehnya. Aku duduk di tepi jalan ditemani pikiran yang kalut. Kancing kemeja kubuka, tangan gemetar perlahan mengorek hingga ke dalam dada kiriku.

     "Aarrgghhh!" Aku berteriak kesakitan. jemari mencengkeram jantung merahku yang berdenyut-denyut. Dengan sisa tenaga aku kembali ke rumah Ana.

     "Anaa, buka pintunya! Aku mencintaimu, Anaaa, ini buktinyaaa! Napasku tersengal-sengal, mataku berputar-putar menahan sakit.

     Bruuk!

     Aku terjatuh. "A-Ana, b-b-bukaa," suaraku lemah.

     Pintu terbuka, Ana terperanjat ketakutan melihatku ambruk. Sepotong jantung di genggamanku masih terus berdenyut, ada nama Ana tertoreh di sana.

     "T-t-tolooong!!!"


Selesai

     

0 Komentar: