Jumat, 13 November 2015

3:23:00 PM - No comments

Berang Dalam Diam

kutitip telunjuk ini ke lampu jalan penerang
angin meniup seakan tak pernah bosan
ia kerap merayu, "ke sinilah, jangan sungkan."

'ku belum seluruhnya ke sana walaupun lengang
ada sesuatu di sini tak menentu dan meruang
pun netra sibuk mengintip ke sana, seirama hati riuh mendegan
seberapa sering telunjuk ini harus kulempar agar ia paham?
mengapa selalu kata yang sama kusimpan dalam botol transparan?
malah tersusun rapi semakin kelihatan
seketika aku kalut terhenyak dalam diam
ternyata bertambah untuk kesekian
lalu bertanya dengan rasa perih tertahan
segera kularikan sepeda menuju jalan yang tadi kusebut lengang
menyerok pasir membuat liang menyebu berang


-r.ayahbi-

0 Komentar: