Kamis, 19 November 2015

12:04:00 AM - 5 comments

A k u lah Perempuan



Aku menyesap sebatang rokok dan mengembuskannya perlahan. Entah sudah berapa batang yang kuhisap. Pikiranku melayang di tengah kerumunan manusia melenggak-lenggokkan tubuhnya, mengikuti dentuman musik dunia. Kerlap-kerlip lampu sedikit menerangi temaramnya ruang yang sejak tadi kunikmati dalam kesendirian.


     Malam semakin larut, namun aktivitas dalam ruang penuh hentakan musik itu malah semakin ramai. Kutatap lekuk-lekuk tubuh menggoda. Mereka yang tak risih dengan balutan kain sekadarnya, menutup sedikit bagian tubuh yang memang tak boleh terlihat. Senyum dan tawa nakal lawan jenis, garang melahap habis pemandangan seronok itu seakan tak ingin luput secuil pun. Tak berbeda denganku. Aku menyesap rokok sekali lagi, dan kali ini kuembuskan asapnya membentuk sebuah lingkaran. Kutiup hingga sirna dari hadapan seraya meneguk minuman beralkohol yang setia menemani sedari tadi.

     Lima tahun sudah kugeluti dunia malam. Kelasku pun bukan amatiran lagi. Kelas tinggi dengan tarif berjuta-juta sudah kupegang. Dengan penghasilanku yang sekarang, sebagian mimpiku tercapai. Dandanan sederhana namun terkesan mewah, parfum lembut dengan harga jutaan menyelimuti setiap jengkal tubuh. Hanya manusia yang berkantong tebal yang boleh menggandengku.

     "Hai, Sya!" Aku dikejutkan oleh suara di balik bisingnya hentakan musik.

     "Oh ... kamu, Dha," balasku sembari mematikan rokok.

     "Yuk, melantai. Tegang amat dari tadi, belum ada bookingan?"

     "Aah, tidak. Malam ini pengen santai dulu, dah sana. Jangan ganggu." Aku mengusirnya secara halus dan tak lupa memberinya sebuah senyuman manis.

     Dhalia, kelas yang sama denganku. Rambut panjang keritingnya sangat menggemaskan, lesung pipinya menggoda banyak pria. Asyik sekali dia mengikuti irama musik, ditemani beberapa teman prianya yang juga ikut melantai.

     Aku kembali tenggelam dalam pikiran, berusaha menikmati malam ini. Jemari memainkan gelas berisi minuman wajib di dunia malam, sesekali kuteguk. Hmm ... ada jejak lipstikku di sana. Merah, dan akan selalu merah.

"Hai, Sayang ... sendirian?" Aku kembali terkejut.

"Tidak, tuh ... dengan teman." Telunjukku mengarah ke Dhalia.

"Oh, tapi boleh kutemani tidak? Malam ini bisa?" Pria itu berusaha membujukku agar bisa menemaninya.

"Lagi merah, Say. Aku tak bisa, sebentar lagi juga mau pulang. Sorry ya, nanti-nantilah." Aku memandangi perawakan tubuh pria yang ada di hadapanku. Setengah baya, ketampanannya jelas sekali. Necis, bau tubuhnya juga harum. Terlihat dia bukan orang sembarangan, tapi ah ... aku lagi malas.

"It's ok, Dear." Pria itu berlalu dan mencari  penggantiku.

Aku, Ayu Syaina ... menghela napas panjang dan membakar sebatang rokok lagi. Kali ini menyesapnya semakin dalam, mengembuskannya sangat perlahan. Kuambil sebuah potret usang dari dalam tas. Namanya Seruni, dia cantik sekali. Adikku satu-satunya. Kedua orang tuaku sudah lama tiada. Aku hanya bisa memandang lekat potret itu, merindukannya. Sudah dua bulan ini aku belum menengoknya di kampung halaman. SMS terakhir darinya, kemarin sore, ingin dibelikan sebuah gamis berwarna pink. Seruni, seorang gadis kecil belum genap 10 tahun, berbanding terbalik denganku.

Apa jadinya kalau dia tahu kalau kakaknya begini? Selama ini kusembunyikan rapat-rapat, tanpa ada yang tahu. Setiap melepas rindu, tak pernah ketinggalan kerudung panjang yang menutup kepala. Munafikkah aku? Hei, akulah yang mengajarinya iqro, tajwidku pun tak kalah dengan ustazah yang mengajarinya di madrasah.

Kedua tangan menangkup wajah, jantung tiba-tiba bergemuruh, terbersit wajah kedua orang tuaku. Dengusan napasku berusaha menahan bulir bening agar tak tumpah mengotori make-up yang kupakai. Melihat potret Seruni yang dibalut kerudung hijau muda membuat pertahanan pelupuk mataku jebol.

Ah, Dek ... kamu belum tahu. Kakak kotor, Sayang.

Untung saja kerlip lampu yang tak terlalu jelas tak menampakkan wajahku yang sedang berusaha menahan tangis.

"Syaa, ayolaah. Jangan duduk-duduk saja!" Dhalia berteriak berusaha merayuku agar mau ikut berlenggak-lenggok. Aku hanya memberi isyarat menolak dengan tangan sekaligus memberitahunya kuingin pulang. Dha membalas dengan jempolnya.

Degup jantung yang tak beraturan ini membuatku sesak, sesal membatin. Aku ingin menangis, tapi untuk apa? Langkah kakiku sedikit berlari, mencari taksi. Ada saja pria-pria yang menggodaku, berusaha menjamahku. Tentu saja, balutan pakaian yang membungkus tubuh ini sangat menarik perhatian mereka.

Di dalam taksi, pikiranku semakin penuh. Otak kembali memutar rekaman film masa kecilku, masih suci, selalu riang. Bermain dengan teman-teman sekolah, bercengkerama dengan orang tuaku dan Seruni. Airmata kembali tumpah. Aku ini lonte! Kelas bawah atau tinggi, aku tetap seorang lonte! Penjaja tubuh memuaskan nafsu pria-pria hidung belang!

Tangisku kian menjadi, aku tak peduli dengan lirikan supir taksi di balik kaca spionnya. Pikirannya tetap saja sama, dia ingin tubuhku.

**

Bruuuk!

Kuempaskan tubuh sintalku ke ranjang empuk. Kupandangi lagi potret Seruni.

"Dek, Kakak sayang sekali padamu," ucapku lirih. Aku menangis sejadi-jadinya. Make-up kuhapus kasar dengan tangan. Dengan gemetar, kubakar lagi sebatang rokok, namun tak jadi kuhisap melainkan melemparnya ke sudut kamar. Air mataku terus menderas tanpa permisi.

Selama ini aku tersenyum hanya menyamarkan pilu, menjalani hidup dengan kemewahan namun hampa.

"Seruni, kakakmu ini ...," lirihku lagi masih dalam keadaan menangis.

Aku ini apa? Lonte! Lonte yang sengsara, lonte yang buta, lonte yang berbau busuk! Batinku bergumul meneriakkan serapah.

"Allah ...." Tubuhku bergetar hebat kala kusebut nama agung itu.

"Allah, Allah, Allaah ... rengkuh aku yaa Allaaah." Aku menangis dan menangis, tubuhku menjadi dingin dan menggigil.

Dalam keadaan payah, aku berusaha membersihkan diri. Air mata bercampur wudu yang perlahan kubasuh sesuai dengan aturannya. Sudah lama kutinggalkan ibadah ini. Kupakai kembali mukena usang berbau apek karena tak pernah kujamah.

Allah, air mataku kini merindu kebenaran.

"Allaahu Akbar. Tangisanku kembali memecah kesunyian. Tubuhku lelah, batinku pun lelah. Dengan gemetar ditemani air mata, kuselesaikan salatku.

Aku masih duduk di atas sajadah, ingin berdo'a tapi aku lupa caranya! Hati kembali sesak, tak ada kata yang keluar dari bibir penuh laknat ini. Aku hanya menutup mata dan tangan menengadah berusaha merapal dedo'a dalam batin, ditemani air mata yang menganak sungai.

Allah, akulah perempuan dengan kesepian tawa, kesunyian kata di balik kelakar-kelakar manusia.

Allah, akulah perempuan dengan hati penuh jerit , menutupi dengan seulas senyuman pahit.

Allah, akulah perempuan yang tidak ingin dilingkari cemooh, berusaha mengeluarkan kebaikan sosok aku.

Allah, terimalah sujud dan do'aku, hanya karena-Mu, Allah. Juga Seruni dan orang tuaku.

"Tobatku bukan sekedar yaaa, Allaaah. Astaghfirullaah." Kali ini suaraku keluar berusaha meyakinkan Sang Maha Pencipta dan juga meyakinkan diriku sendiri.

Tubuhku ambruk! Keningku kembali merata dengan tanah. Ujung sajadah basah oleh air mata. Aku meraung-raung bagai anak harimau kehilangan induknya. 

Ayu Shalihah, namaku yang sebenarnya.Aku ingin bertobat, berusaha menjadi seorang saleha bukan lonte kembali.

Jakarta, 2014

*lon•te/lonte/perempuan jalang; wanita tunasusila; pelacur; sundal.




5 Komentar:

Aduh, openingnya seperti bukan Ribi deh.

Hahahaaa...

sukma: hehe .. makasiiii adekku sayang
mbak citra: berkat riset .. semoga tidak vulgar ya mbak :) .. maaciiii