Sabtu, 01 Agustus 2015

Penoreh Jejak



DI waktu fajar, tengah hari, senja hingga malam, tapak kaki yang menoreh jejak berpeluh itu akan selalu membekas. Angin tak akan pernah sanggup menghapusnya. Jejak itu membumi dan melangit.

Tak pernah mudah menyusuri jalan. lurus, berkelok, terjatuh dan terluka. Namun, jejak itu istimewa. Makhluk bercahaya sigap menaunginya. Rapalan mantra penghuni bumi dan langit disusun indah utnuknya langsung menuju Sang Maha. Dia, jejak yang terpilih. Jejak yang menurut-Nya, selamat.


***

Aku? Terpilih? Dari mana? Jejakkku selalu terhapus oleh angin. Satu saat ada, satu saat menghilang. kebaikan selalu berdekatan padanya. Aku? Mafhum pun tidak!

"Masaku tak pernah ada," celotehku sinis.
"Cobalah, sedikit saja bagi masamu. Kelak kau tak akan merugi," rayunya kembali mengusik.
"Urus saja masamu sendiri!"

Jejak itu tak pernah menggangguku lagi. Tapi malah membuatku kesal! Sebaris senyum selalu dilemparkannya. Apa dia tak pernah terganggu rupaku yang kusut masai? Saat itu aku merasa seperti diteror.

Akhirnya aku mengalah, mengekor di belakang tubuhnya, perlahan menyusuri jalan. Perlahan dipapah, aku berusaha menoreh jejak, terhapus, kutoreh kembali. Memang benar, semua tak mudah dan aku kian merasa asing.

"Tak apa, terkadang kita dianggap bodoh. Tapi bodohnya kita, selalu terlihat cerdas oleh Sang Maha," ujarnya tenang.

Kupikir, tak ada yang salah dengan semua ini. Dulu akus elalu berkoar-koar mencemoohnya, kini hanya berusaha diam dicemooh manusia lain. Aku hanya ingin menyamainya dan tak ingin lagi terjatuh.

"Kapan aku bisa sepertimu?"
"Tak usah bertanya-tanya, perlahan saja. Tak perlu kau menghitung tiap jejakmu ke sana."
"Tapi, sampai kapan aku harus begini?" Senyuman itu lagi. Tapak kakinya terus menyusuri jalan. Aku terseok-seok mengimbangi.

Satu saat, aku demikian terlaknat. Penat!

"Nantilah, tubuhku remuk redam. Mataku seperti ditimpa beban yang sangat berat. Aku ingin terlelap."
"Jangan begitu, ayolah. Segera basuh di tiap jengkal tubuhmu. Segar pasti akan menghampiri."

Aku tak mengindahkannya lagi. Aku sedang bosan. Bosan namun kusadar, iblis mana lagi yang merayu langkah? Akukah iblisnya? Hanya ingin memejam mata sejenak, lambungku rindu kapuk tebal. Berkali-kali, penatku bertambah berat, hatiku terkunci, mati.

"Aku tak mau lagi ke sana!"
"Mengapa?"
"Aku tak pernah bisa menyamai jejakmu!"
"Tujuanmu apa? Untuk sekedar menepuk dada atau hendak mengeja alif hingga ya menuju syurga?"
"Kautahu tujuanku!"
"Aku tak pernah tahu, aku hanya berusaha menyampaikan yang aku tahu."
"Sudahlah, cukup! Pergi saja kau!"

Hatiku panas, siapa dia? Dia bukan makhluk penuh cahay. Dia bukan Sang Utusan. enak saja, berani-beraninya menceramahiku! Aku muak! Hatiku demikian ternodanya. Kian panas! Berang! Aku terganggu dengan senyumannya yangs selalu dan selalu ia lemparkan. Hingga satu saat, seperti guntur bergemuruh, aku mendengar jejaknya tak akan pernah lagi tertoreh di bumi. Kini menuju langit. Ada yang salah denganku! Aku seperti kehilangan arah. Oh, tidak! Aku limbung! kau harus ada lagi, jejak yang sama yang aku mau! Kali ini aku merasa malang karena nafsu dan hati berperang.

"Mengapa cepat sekali kau menghilang? tangisku sedih sekali. "Aku rindu jejakmu, aku rindu senyumanmu, aku ingin kita bersama lagi ke sana, ke majelis penuh ilmu bersahaja." Dingin, aku meraba tapak kaki sabarnya. Ah, kawan. Aku ini apa? Aku tak berguna, kau selalu melempar senyum kepadaku. kau tak mengenal peluh, keluh 'tuk mengeja alif hingga ya. Kini, ragamu terbujur kaku. Kulihat senyummu masih terlukis di rupa syahdumu.

Oh, Allah, Allaah, Allaaah, aku sedih. Jejakku kini sendirian. Hanya ada secarik kertas sederhana, warisan untaian petuah indahnya.

"Saudaraku, napas satu masa lepas, di bumi hanya raga yang membekas. Di Sana, kaulah penanggung apa yang kaudengar, kaulihat dan rasa. Kembalilah, saudaramu yang lain menunggu dengan tangan terbuka."

Bulir menitik hingga menderas. Duniaku runtuh memandang rupanya yang pucat pias. Jejaknya akan selalu membekas kenang. Senyumannya itu, akans elalu terulas bayang. Senyum seorang kawan yang selalu merayuku menuju syurga-Nya bahkan saat napasnya berakhir.

Jakarta, 2015





0 Komentar: