Jumat, 11 Desember 2015

8:30:00 PM - No comments

Matamu, Kau Kucing Hitam


Aku sudah terlalu lama tertidur dalam matanya. Hingga sekarang, entah sampai kapan. Aku kerap diomeli kiri kanan tanpa ada persetujuan. Sampai telingaku panas tak keruan. Aku tuli, bahkan tersesat di dalamnya, berkali-kali terbentur dinding kaca berwarna kuning mengkilap. Apabila semua gelap, warna kuning itu semakin menyala.


Terkadang hanya semenit aku mampu melompat keluar. Aku sempat mencongkel habis ke dalam retinanya hingga dia meraba-raba mencari cahaya dan akhirnya menyimpanku lagi dalam matanya.
Aku benci tapi aku telanjur cinta. Matanya telah membunuhku. Hatiku yang bukan berbentuk daun waru pun sudah semakin tenggelam.

"Datang ya ke rumahku?"

"Iya, nanti Abang datang," ucapnya yakin.

"Kapan, Bang?"

"Nanti aku bicara dulu pada Bapak, ya?"

"Jangan lama-lama, aku sudah tak sabar ingin bersamamu, Bang."

"Bersabarlah." Aku kembali terjebak.

Indahnya angan-angan membayangkan matanya memenuhi tiap sudut ruangan mungil. Walau hanya berbentuk segitiga sama kaki, luasnya tak akan mempengaruhi luasnya cintaku. Naif bukan? Tiap aku bangun tidur, matanya melompat menyergap menghujaniku dengan kilatan cinta hingga aku tertidur kembali. Ada rasa yang menggebu-gebu di sini. Bukan hanya di hati, seluruh tubuhku pun merasa begitu.

Akhirnya aku tiba di ujung pertanyaan. Dari nona berganti nyonya. Siapa yang tak senang? Aku yakin sampai tak memedulikan makian keluarga. Hingga satu malam terkuak segalanya. Aku di sini di ruangan segitiga sama kaki, dia di sana dalam kotak persegi panjang dengan bantalan empuk.

"Matamu, kau kucing hitam! Kau sangat menarik tetapi hitam!" rutukku geram.

Sepertinya menabrak kucing hitam sampai tak bernyawa akan kulakukan, asal kukubur cepat biar aku selamat. Atau memukulinya hingga sekarat, agar matanya yang kuning meredup pekat. Tak lupa, aku harus menyiapkan kembang tujuh rupa dan keramas sampai bersih agar tak sial setelah melakukan semuanya. Rencana yang bagus, pikirku.

Jakarta, 2015

0 Komentar: