Senin, 29 Juni 2015

1:58:00 PM - No comments

Di Balik Hati Runa



Runa berlari kencang tanpa menoleh ke belakng membekap erat sebuah boneka beruang kecil. Napasnya tak beraturan. Ia sudah berlari sangat jauh dan akhirnya tiba di sebuah gang kecil. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada yang melihatnya.

"Aku aman di sini."

Gadis kecil berambut panjang itu duduk, kakinya diluruskan agar leluasa melepas lelah. Mengatur napas dan tangannya tak henti mengusap boneka beruang kecil miliknya.

"Beruang, mengapa aku harus berlari terus? Hanya kamu temanku, tapi kamu tak bisa bicara." Mimik wajah Runa datar.

"Beruang, aku ingin potong rambut. Aku ingin menjadi anak laki-laki saja, agar mereka tak mengenaliku." Matanya sibuk mencari batu kerikil tajam, ia pikir bisa membantu menggunting rambutnya yang tebal. 

"Tidak ada, Beruang. Sepertinya aku gagal memotong rambut." Ia menaruh boneka itu tepat di sampingnya.

"Aku mencintaimu, Beruang. Tapi aku tidak mencintai mereka. Mengapa mereka jahat sekali padaku? Andai kamu bisa bicar dan membawaku pergi."

Tak ada air mata di sana, sepertinya di sudah terbiasa melarikan diri. Gadis kecil itu masih terlihat kelelahan. Dunianya tak seperti anak-anak yang lain. Bisa bermain dan bercengkerama dengan anak seusianya. Ia hanya berlari dan berlari terus, menghindari kejaran mereka. Ia masih berbicara sendiri sambil memandangi boneka beruang di sebelahnya.

"Beruang, aku capek. Aku sebenarnya lapar. Hari ini makanan yang disediakan ibu terlihat sangat enak. Tapi aku tak berani memakannya." Pikirannya menerawang jauh dan memandang ke langit. 

"Siapa yang bisa menolongku?" Runa berbicara pada langit. "Awan, burung, angin, siapa saja, tolong jemput aku, aku capek."

Runa menekuk kaki, memeluk kedua lututnya dan akhirnya tertidur.

"Ternyata kau di sini! Banguuun! Anak tidak tahu diri, mengapa kau kabur terus, haaah?!!" Seorang lelaki jangkung berteriak, membuat Runa terkejut bangun.

Mata Runa membola, spontan berusaha berlari lagi, namun terlambat. Lelaki itu yang ternyata ayahnya, sudah menangkap lengan kecil Runa. 

"Aww, sakiit, Ayaaah!" Runa tak menangis, wajahnya berubah merah padam. Runa terus meronta.

"Ayoo pulaaang!! Ibumu sudah menunggu di rumah!!!" Lelaki itu menarik kasar lengan Runa. Runa tak bisa apa-apa. Matanya kosong memandang boneka beruang yang tak sempat ia ambil, tertinggal di pojok sana. 

"Kali ini kau akan rugi kalau kabur lagi. Keluarga barumu akan datang besok, mereka sudah membayar kontan. Awas kalau kau kabur lagi!!!"

Runa tak mendengar teriakan ayahnya. Gadis kecil itu sibuk berpikir untuk melarikan diri untuk yang kesekian kalinya. Menjemput boneka beruang kesayangannya yang tertinggal sendirian.

Selesai

0 Komentar: