Sabtu, 27 Juni 2015

11:34:00 AM - No comments

Cermin Buram





Akhirnya aku pindah ke sebuah rumah mungil, dengan taman tak begitu besar nan asri. Ada ayunan kecil dan membayangkan, duduk berayun-ayun sembari menulis sesuatu atau hanya sekedar melepaskan penat. Aku langsung menyukai rumah ini saat pertama kali melihatnya.

Aku masih sibuk mengatur segala perabotan yang masih berantakan di ruang tengah. Titik-titik peluh membasahi wajah. Walau lelah, bibir ini tak lepas dari senyum semringah.

"Hmm, rak kecil ini di sana, kursi malas bagusnya di sini saja," gumamku sembari mengangkat dan menaruh rak kecil yang dimaksud, sesuai perintah bibirku. "

Hampir seharian, aku membersihkan rumah baru. Sudah saatnya beristirahat, secangkir teh hangat sepertinya nikmat. Kedua kaki ini langsung menuju dapur yang juga masih terlihat berantakan. Dengan cekatan, sebuah cangkir kuisi air panas juga teh celup, tak lupa sesendok gula. Kuaduk kemudian kuseruput perlahan. Pandangan kusapu ke sekeliling ruangan. Tak sengaja mata ini tertuju pada sebuah benda menelungkup di sudut dapur. Rasa penasaran membawaku mendekati benda itu, ternyata sebuah cermin. Kotor sekali, terbungkus debu yang cukup tebal. Aku sampai sedikit terbatuk karena sempat menghirup debu yang beterbangan. Cermin yang cantik dan antik, sangat cocok kalau kugantung di ruang tengah. Aku tersenyum membayangkan ruang tengahku menjadi lengkap. Aku suka cermin yang kutemukan ini.

"Nah, kalau kugantung di sini, sangat pas." Aku berusaha mengatur agar posisinya tak miring. Tapi ... ada yang aneh. Aku baru sadar cermin ini tak seperti cermin yang biasanya. Aku sedikit bergidik. Tak ada yang memantul di sana. Aku berusaha memastikan kalau perkiraanku salah. Namun ternyata kosong, benar tak ada yang memantul. Kulihat hanya jalan yang jauh tak ada ujung. Tak sadar jemari gemetar namun ingin menyentuhnya. Berusaha mencari tahu mengapa cermin ini berbeda? Aku terkesiap sedikit mundur. Ada sebuah titik yang perlahan seakan menuju ke arahku. Bulu kudukku semakin berdiri, bibir ini kelu, jantung semakin memacu. Aku ketakutan! Titik itu berwujud seseorang!

"A-aa-pa itu?" tanyaku sendiri dalam ketakutan. Kaki ini semakin mundur berusaha menjauhi cermin aneh itu. Bug! Tubuh membentur dinding. Aku tak bisa bergerak! Oh, tidak! Tolong, tolonglah aku! Batin berteriak sendirian.

Titik itu berubah menjadi wujud yang menyeramkan. Perlahan mengambang menghampiriku yang masih mematung. Mataku membola karena ngeri. Tubuh gemetar, bibir ini masih tak dapat berteriak. Wujud itu keluar dari cermin, seorang perempuan berambut panjang acak-acakan, menutupi wajahnya. Bola-bola api keluar melayang mengikutinya. Kini wajahnya dekat sekali dengan wajahku! Aku sedikit dapat melihat matanya, bola mata hitam mengerikan!

"To-to-lon-ng, ja-jaa-ngaan," lirihku mengiba ketakutan. Tubuh kian gemetar.

"Akuu, Yureei. Kau yang ambil cerminnyaa?" Suaranya keluar mendesis-desis berat. Wajah perempuan itu masih di hadapan, dekat sekali dengan wajahku. Aku hanya mengangguk, semakin ketakutan bergetar hebat. Aku menangis, tolonglaaah, jangan bunuh akuu! Teriak batinku.

"Garaa-garaa rambuut inii, akuu terseesaat. Teeriimaa kasiih kaau gantuung cermiin ituu. Akuu bisaa keluaar sekaaraang! Cermin itu rumah si Bloody Marry!!" Seketika wujud yang mengaku Yurei, melesat hilang keluar. Tinggallah aku sendiri terduduk menangis ketakutan.


Yurei = Hantu jepang berambut panjang
Bloody marry = Hantu Amerika yang berdiam di cermin

Selesai

0 Komentar: