Minggu, 29 November 2015

Airmata Gharqad, Si Pohon Yahudi

oleh: Ida Fitri dan Rinidiyanti Ayahbi


MATAHARI bertasbih
Bulan bertasbih
Hujan bertasbih
Angin bertasbih

Daun bertasbih
Akar bertasbih
Semut bertasbih
Batu bertasbih
Amuba bertasbih


Semesta bertasbih …
Bahkan gharqad pun bertasbih
Aku?

***********

“Itu dia!” Tin berteriak menggema di antara tebing.
“Kejar! Tangkap! Adili!” teriak Zaitun yang dibawa angin kepada para pengejar. Theodore semakin terdesak.
Menyerah? Tidak, ia tidak akan menyerah pada mereka. Bukankah selama ini ia selalu menang. Pandai berkelit dan pemilik seribu muslihat. Mengubah hitam menjadi putih dan sebaliknya, semudah membalikkan telapak tangan. IQ-nya setinggi langit. Tidak ada kata menyerah.
Ia tertatih menghampiriku. Mungkin Theodore memang sedang butuh perlindungan. Tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat. Aku membisu ketika lelaki itu bersembunyi di belakang punggungku.
***
Lelaki itu tertidur pulas. Para pengejar sudah lama pulang. Mereka gagal menemukannya.
“Dasar! Kau pelindung si Munafik!” Angin berbisik geram padaku.
“Mengapa menuduhku tanpa bukti?”
“Bukti apalagi yang kaubutuhkan? Sekian rumah telah ia ratakan. Ibu kehilangan anak. Perempuan menjadi janda. Ribuan anak menjadi yatim.”

“Sekejam itukah?”
“Tidak! Lebih dari itu. Lelaki itu membantai penghapal kitab suci.”
Waktu pun ikut berang berteriak padaku.
“Lelaki laknat itu juga menghina Kekasih Tuhan! Melukis gambar-gambar Sang Utusan!” Zaitun berkata penuh amarah.
“Ia berani menghina Sang Utusan? Benarkah?”
“Duduklah di punggungku Gharqad … akan kutunjukkan padamu!”
Aku naik ke punggungnya. Angin berhembus kencang. Aku terseret dalam pusaran waktu. Terlempar ke masa jaya lelaki itu.
***
“Pak, jangan dihancurkan! Bayi saya di dalam rumah ….”
Wajah pria itu menatap dingin seraya memberi aba-aba untuk meledakkan rumah tesebut. Perempuan berselendang hanya bisa meratap memohon di bawah kakinya. Suami si perempuan tak tahan lagi. Diambilnya batu besar hendak dilempar ke arah Theodore.
Dor!
Peluru menembus dada suaminya. Darah muncrat kemana-mana.
Aku terpaku bisu.
“Jangan coba-coba melawanku!” teriaknya pongah. “Tanah ini diberikan Tuhan untuk kami. Siapa yang melawan? Mati!”
Tiba-tiba perempuan berselendang mencakar wajah Theodore seraya mengucap takbir, “kau laknaaat!! Allaahu Akbaar!”
Beberapa teman Theodore menarik paksa tubuhnya dan … dor! Peluru kembali membuat lubang penuh darah, kali ini di dahi perempuan berselendang itu. Mati. Theodore dan teman-temannya menyeringai puas, hari ini sudah menambah daftar mangsa untuk peliharaan mereka.
“Cih! Sudah kubilang jangan melawaaan!!” Lelaki bertubuh tegap itu menendang mayat yang barusan ditembaknya. “Tak usah kita habisi bayinya. Biarkan anjing mencabik hingga kenyang. Setelah itu, rumah ini kita ledakkan!”

Aku semakin terpaku bisu.
“Kau lihat kan, Gharqad? Bayi tak berdosa pun dibunuhnya pelan-pelan! Mengapa kau hanya diam, Gharqad? Apa kau mau melihat lagi kekejamannya?”
Mengapa aku tetap tak berdaya mengutuknya, hanya bisa melihatnya dingin.
Angin kembali membawaku menyusuri langit. Gemerisik daunku yang lunak juga dahan berduriku bergoyang mengikuti ke mana pun angin menuju. Langit terlihat jelas kemerahan, bukan karena senja yang akan datang, tetapi dentum kekejaman yang siap mengintai setiap nyawa. Di depan mataku tampak seorang ibu menangisi anaknya yang sekarat, seorang isteri mendampingi suaminya yang sudah tak disinggahi nyawa.

“Mengapa lelaki itu kejam sekali?”
“Tidak hanya lelaki itu, tapi semua wujud zion yang ingin mengerus setiap jengkal nafas!!”
“Mengapa mereka tidak pergi saja?” tanyaku sesak.
“Mereka mempertahankan haknya, menjaga tempat yang diyakini umat Tuhan!”
Tuhan, dilema apa ini? Haruskah aku bertanya lagi? Oh, tidak! Apakah aku termasuk golongan pembangkang?
“Angin, aku ingin turun!”
“Buat apa? Kau ingin melarikan diri karena kesalahanmu melindungi zion-zion kejam itu, haah!!”
Aku melesat turun, dahan berduriku menghantam bongkahan batu sisa runtuhan gedung yang tak layak ditinggali lagi.

“Kau, buat apa kau ke sini!” Batu itu berteriak kasar. ” Kau tak berhak di sini! Sudah terlalu banyak dirimu yang ditanam oleh mereka! Pergiii!”
Tidak! Tidaaak! Mengapa kalian tidak adil kepadaku!
Dari jauh kulihat lelaki zion, Theodore dan beberapa lainnya menggantung anak-anak di pagar sebuah gedung kemudian memberi aba-aba di kejauhan dan … buum! Seketika luluh lantak, serpihan reruntuhan gemeretak, kepulan debu membentuk kabut sesak. Sekali lagi tubuh-tubuh kecil itu merenggang nyawa tanpa mengerti alasan kenapa harus mati.
“Me-me-ngapa? Ma–ma-na anak-anak tadi?” gelagapku lirih.
Angin menangkapku kembali, kemarahannya menjadi, ia membentuk pusaran tinggi, menghantam apapun yang dilewatinya.
“Kau mau bukti apalagi, Gharqaaad!!”
“Lepaskaan aku! Apa salahku! Semesta alam bertasbih, aku bagian dari semesta itu, kalian tidak adiiil!” Angin tetap mengikatku kuat dalam pusarannya.
“Tolong … bawa aku pulang! Aku tak tahan lagi melihat semuanya!!” tangisku pecah, memohon pada pusaran.
“Baik! Tapi ingatlah selalu apa yang sudah kaulaku. Melindungi musuh Tuhan. Apa bedanya kau dan dia?”
Angin berputar-putar. Sang waktu bertitah. Aku memejamkan mata.

***
Oh, diriku sudah berada di lembah. Masih terisak tak kuasa pada sebuah kenyataan. Betapa kejamnya lelaki yang sedang tidur di dahanku.
Di timur, matahari tersenyum menawarkan pesonanya. Dari arah kedatangan Theodore kembali terdengar suara kelompok pengejar. Zaitun menatapku penuh amarah. Aku tertunduk, menangis. Tuhan, andai bukan karena titah yang kauberikan untukku. Aku akan membunuh zion ini dengan tanganku sendiri.
“Itu dia! Theodore bersembunyi di dahan Gharqad!!” teriak batu tebing, membentuk gema yang bersahut-sahutan. Para pencari menatap tajam ke arahku. Nama Tuhan mereka panjatkan. Theodore menangis sesegukkan di dahan. Aku hanya mampu memejamkan mata. 

Selesai
Jakarta - Banda Aceh, 2015



0 Komentar: